Manajemen Kebencanaan Di Indonesia Melalui Pemetaan Berbasis Komunitas

Mitra

Tingginya risiko bencana di Indonesia memerlukan perhatian dan upaya khusus untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan. Pada tahun 2011, kami memulai bekerjasama dengan BNPB dan organisasi internasional lain untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di Indonesia. Solusi yang kami tawarkan adalah melalui pemetaan berbasis komunitas dengan OpenStreetMap.”

LATAR BELAKANG

Indonesia adalah negara dengan tingkat risiko bencana tinggi. Hal ini disebabkan karena letak geografis Indonesia yang berada di antara tiga lempeng tektonik dan dua samudera. Kondisi ini diperparah dengan tingginya jumlah penduduk yang tinggal di wilayah rawan bencana. Sebagai contoh, bencana tsunami Aceh tahun 2004 mengakibatkan korban jiwa hingga 160.000 orang.

Untuk itu, perlu ada upaya khusus untuk meminimalisir dampak yang muncul dari suatu bencana. Hal ini dapat dimungkinkan dengan membuat suatu upaya penanggulangan risiko bencana dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat maupun wilayah, jauh sebelum bencana terjadi.

Dalam siklus manajemen kebencanaan, tahap kesiapsiagaan memiliki peran yang paling krusial untuk menentukan kesuksesan tahap berikutnya.

PREPAREDNESS

Pemetaan wIlayah
Pemasangan tanda bahaya
Rencana tata ruang
Pembuatan peraturan

RESPONSE

Peringatan dini
Penyelamatan korban
Distribusi bantuan

RECOVERY

Rekonstruksi infrastruktur
Rehablitasi

Diprakarsai oleh DMInnovation (dulu dikenal sebagai AIFDR Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction) dan GFDRR (Global Facility for Disaster Reduction and Recovery) memulai pengembangan perangkat lunak bebas terbuka bernama InaSAFE (Indonesia Scenario Assessment For Emergencies) untuk membantu membuat pemodelan dampak bencana di Indonesia. Selanjutnya, InaSAFE akan digunakan oleh BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

Salah satu data yang dibutuhkan dalam membuat pemodelan dampak bencana tersebut adalah data exposure atau data keterpaparan bencana, dalam hal ini adalah infrastruktur seperti bangunan dan jalan. Masalah yang muncul adalah, data infrastruktur yang lengkap belum dipetakan secara lengkap.

Oleh karena itu, kami (yang dulunya masih bernama Humanitarian OpenStreetMap Team Indonesia) turut berperan serta dalam menyediakan data keterpaparan atau infrastuktur di Indonesia melalui pemetaan berbasis komunitas menggunakan platform pemetaan bebas terbuka, OpenStreetMap.

Kami mengadakan berbagai kegiatan pelatihan dan juga kompetisi pemetaan untuk dapat meningkatkan kemampuan masyarakat maupun komunitas dari lingkup terkecil agar dapat berkontribusi untuk memetakan wilayah yang rawan terhadap bencana.

PERJALANAN KAMI

Kami mulai rangkaian kegiatan kami di tahun 2011 dengan bantuan dan kontribusi dari berbagai kalangan : masyarakat umum, komunitas, mahasiswa, hingga organisasi pemerintahan. Simak rangkaian kegiatan yang telah kami lakukan melalui timeline berikut.

Tahap IV : 2015 – 2016

Kami meneruskan semangat kami untuk membangun komunitas dan pengguna OpenStreeMap di Indonesia dengan mengakan University Roadshow di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Hingga tahap ini, kami telah berhasil melatih lebih dari 2.500 orang untuk memetakan di OpenStreetMap dan menggunakan QGIS/InaSAFE.

Tahap III : 2013 – 2015

Kami mulai menjangkau kalangan akademisi muda yaitu mahasiswa melalui kegiatan University Roadshow. Kegiatan ini terdiri dari acara sosialisasi dan training yang berlangsung kurang lebih selama satu minggu.

Beberapa universitas yang kami kunjungi antara lain: Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Hasanuddin, dan Universita Nusa Nipa Maumere.

Tahap II : 2012 – 2013

Bekerjasama dengan AIFDR, GFDRR, ACCESS, dan BNPB, kami fokus meningkatkan kapasitas bagi komunitas dan kalangan pemerintahan untuk dapat membantu pengumpulan data infrastuktur melalui pemetaan OpenStreetMap.

Hal ini dilakukan melalui dua cara: membangun tim yang berisikan para ahli OpenStreetMap dan melakukan pelatihan pengumpulan data di beberapa wilayah rawan bencana: Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, NTT, Papua Barat.

Kami juga melanjutkan proyek kerjasama dengan ACCESS dan berhasil mengembangkan panduan pemetaan OSM dalam Bahasa Indonesia untuk tingkat pemula, menengah, dan lanjut. Panduan ini dapat dilihat di learnosm.org. Selain itu, kami juga mulai membangun komunitas OpenStreetMap di Indonesia melalui pembuatan website dan channel sosial media lainnya.

Tahap I : 2011

Tahun 2011, kami fokus melakukan pemetaan daerah perkotaan di lima provinsi di Indonesia: Padang, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung. Kami mengajak para mahasiswa untuk belajar memetakan melalui pelatihan yang kami berikan dan berkompetisi untuk menjadi mappers dengan jumlah pemetaan terbanyak.

Daerah pedesaan juga tak luput dari perhatian kami. Kami berkolaborasi dengan ACCESS (Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme) dan PNPM Mandiri (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri) melakukan beberapa kegiatan workshop pemetaan di delapan wilayah kerja ACCESS dan juga PNPM.

PERAN KAMI

Kami berperan dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan wilayah dalam menghadapi bencana melalui peningkatan kapasitas berbagai elemen masyarakat untuk dapat memetakan wilayahnya yang termasuk dalam kategori rawan bencana di beberapa provinsi di Indonesia:

Lokasi Pelatihan

Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sumatra Barat, Yogyakarta,

Kami memberikan pelatihan kepada masyarakat, komunitas, dan juga instansi pemerintah bagaimana cara memetakan wilayahnya secara detil menggunakan platform pemetaan bebas terbuka, OpenStreetMap. Kenapa OpenStreetMap? Karena OpenStreetMap merupakan sebuah platform pemetaan bebas-terbuka yang dapat dipelajari secara mudah oleh siapapun, secara gratis. Siapapun dapat menggunakan dan mempelajari OpenStreetMap secara mudah, meskipun tidak mempunyai latar belakang ilmu pemetaan sekalipun.

Mengapa pemetaan wilayah menjadi penting? Lengkapnya informasi data geospasial yang dimiliki oleh suatu wilayah akan mempermudah pihak terkait dan para pengambil keputusan untuk menentukan tindakan pada saat dan pasca terjadi bencana.

Dokumentasi kegiatan pelatihan bagi berbagai kalangan

Data geospasial yang sudah dipetakan dapat digunakan untuk analis menggunakan InaSAFE, suatu perangkat lunak yang dapat menghitung dampak bencana yang ditimbulkan, seperti jumlah korban jiwa serta jumlah bangunan dan infrastruktur terdampak.

Beberapa contoh penggunaan InaSAFE dalam membuat pemodelan dampak bencana di beberapa provinsi di Indonesia dapat dilihat di http://inasafe.org/cases.html.

Tampilan InaSAFE untuk memperkirakan dampak bencana yang muncul

Apa kata mereka?

Untuk memperluas informasi dan penggunaan OpenStreetMap dan InaSAFE dalam rencana penanggulangan bencana, kami menyediakan modul serta bahan ajar yang dapat digunakan oleh siapapun secara gratis. Dengan ini, kami berharap akan lebih banyak masyarakat yang dapat mengetahui bagaimana cara mereka untuk berkontribusi dalam meningkatkan taraf kesiapsiagaannya dalam menghadapi bencana di Indonesia.

Beberapa modul yang dapat diunduh dan dipelajari secara gratis dapat diakses di learnOSM.org.

Contoh modul/bahan ajar yang dapat digunakan dan didapatkan secara gratis

Anda juga dapat melihat ringkasan kegiatan yang kami lakukan melalui video di bawah ini. Pantau dan ikuti juga akun sosial media kami untuk mengetahui info terkini mengenai kegiatan yang kami lakukan.

Hubungi Kami!

Jl. Tebet Timur 3i No. 4 Tebet, Jakarta Selatan 12820

team.id@hotosm.org

Social Media

Ikuti sosial media kami di bawah ini untuk mendapatkan info terkini kegiatan kami!

Peta Lokasi Kami


Lihat peta lebih besar